Desa Adat Ratenggaro : Perpaduan Nilai Adat & Mistis Yang Eksotis

Sumba! Sebuah pulau yang selalu membuatku terkagum-kagum akan kekayaan dan keindahan alamnya. Tapi kali ini bukan itu yang akan kubicarakan, melainkan Desa Adatnya yang membuatku seperti kembali ke zaman megalithikum. Sebut saja Desa Ratenggaro.

Desa Ratenggaro merupakan desa yang memiliki ciri khas berupa jajaran rumah adat yang menarik untuk dikunjungi. Letaknya berada di wilayah Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Bangedo, dan masuk kedalam kawasan Sumba Barat Daya yang juga memiliki Pasola sebagai ikon budayanya.

By the way, aku sendiri mengetahui desa ini setelah melihat video klip salah satu band indie favoritku yang kebetulan mengambil syuting di lokasi tersebut. Dan sejak saat itu, aku semakin mengagumi Tanah Sumba.

Oke gengs, balik lagi ke Desa Adat Ratenggaro. Salah satu keistimewaan dari desa ini adalah karena Ratenggaro akan membawamu seperti kembali lagi ke lorong waktu sekitar 4.500 tahun lalu. Dimana disini masih terdapat kuburan batu tua di sekitarnya.

For your information, Ratenggaro sendiri berasal dari kata “Rate” yang berarti kuburan , & “Garo” yang berarti orang-orang Garo. Konon dahulu kala, saat masih maraknya perang antar suku, suku dari orang yang sekarang menduduki desa ini berhasil merebut wilayah desa orang-orang Garo. Konteks pada saat itu adalah suku yang kalah perang akan dibunuh dan dikubur ditempat itu juga. That’s why desa ini memiliki arti “Kuburan Orang-orang Garo”. Hiiiiiii sereeeem ..

Anyway, di desa ini terdapat 304 buah kuburan batu. Dan 3 diantaranya memiliki bentuk unik yang terletak di pinggiran laut. Selain itu, bentuk pahatan dan ukurannya menyerupai meja datar berukuran besar yang terlihat sangat kokoh walau dihantam angin kencang dari arah laut.

Menariknya lagi, Desa Adat Ratenggaro memiliki keunikan pada rumah adatnya yang disebut Uma Kelada. Uma Kelada memiliki ciri khas berupa menara menjulang tinggi mencapai 15-20 meter. Atapnya berbahan dasar jerami dan tinggi rendah atapnya didasarkan atas status sosial mereka. Bangunannya berbentuk seperti rumah panggung yang terdiri dari 4 tingkat dengan fungsi yang berbeda.

Tingkat paling bawah digunakan sebagai tempat hewan peliharaan. Tingkat kedua diisi oleh pemilik rumahnya tinggal. Dan di atasnya adalah tempat untuk menyimpan hasil panen. Kemudian di atas tempat memasak terdapat sebuah kotak yang digunakan sebagai tempat menyimpan benda keramat. Sedangkan tingkat teratas adalah tempat untuk meletakkan tanduk kerbau sebagai simbol kemuliaan.

Hem, sekilas memang mirip seperi rumah orang Flores dan Toraja ya. Dimana dirumahnya terdapat rahang babi dan tanduk kerbau menggantung sebagai simbol bahwa pemilik rumah tersebut pernah melaksanakan upacara adat.

Diluar itu semua, Ratenggaro juga termasuk Desa Adat yang masih memegang teguh melestarikan adat dan tradisi peninggalan leluhurnya loh gengs. Hal ini terbukti karena masyarakatnya masih menganut tradisi Marapu, sama seperti kampung-kampung di Kabupaten Sumba Barat Daya pada umumnya.

Yap, jadi begitulah sedikit gambaran dari Desa Adat Ratenggaro. Sebuah desa yang masih memiliki nilai mistis namun tetap terlihat eksotis. So, nggak ada salahnya kamu memasukkan destinasi ini ke dalam bucket listmu. Karena selain dapat mengenal adat dan budayanya, kamu juga bisa sambil main kuda dan belajar menenun dengan masyarakatnya. Atau mungkin hanya sekedar melihat-lihat karya seni dan alat musiknya.

Nah, untuk kamu yang ingin kesini, datanglah menjelang sore hari. Dan dapatkan matahari berwarna jingga mengantar senja. Sedangkan transportasinya kamu bisa menyewa kendaraan dari Tambolaka yang berjarak sekitar 56 km ke lokasi Desa Ratenggaro dengan kondisi jalan beraspal yang cukup mulus. Atau kalau nggak mau ribet, kamu bisa mengikuti Trip Overland Sumba nya Backpacker Jakarta. Selamat menjejakkan kaki ke Tanah Sumba !

 

(backpackerjakarta)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *